Trilogi B2B - Jilid 2 : Sunset Tanah Lot

Strateginya cari penginapan kelas murmer untuk sekedar memanjakan tubuh, secara sudah lebih dari seminggu ga nempel kasur. Dan, cuci-cuci baju dan peralatan yang mulai mengeluarkan aroma tak sedap. Serta cuci sepeda, terutama rantai.

Jadilah ... penginapan 85 ribu semalam di Tanjung Wangi kelas kipas angin. Beberapa km dari pelabuhan Ketapang. Saya lepas webing hammock buat jemuran ... di kamar.. jiah. Mungkin kalo ob hotel lihat akan geleng-geleng kepala.

Sambil nunggu keringnya jemuran Saya melongok ke tepi pantai, rupanya hotel ini persis berada di samping gudang pabrik semen. Bisa diidentifikasj begitu dari sebuah pelabuhan kecil tempat bersandar kapal tangker pengangkut semen curah.

Jam 1 siang, setelah merapikan kembali kamar hotel dan repacking pannier Kami cabut, nyeberang kita.


Untuk menyeberang dengan feri dari Ketapang ke Gilimanuk, Sepeda Gayung (??? Belinya dimana ya???) masuk golongan  1 harga tiketnya 7.000 ... murah banget yah !!! Sedangkan Sepeda motor 22.000.

Memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di Gilimanuk. Lanjut gowes, yah.. Kami sudah menapakan ban sepeda di pulau dewata. Selepas pelabuhan Gilimanuk, Kami disambut persimpangan jalan. Kiri ke Singaraja, kanan Denpasar via Tabanan.

Langsung masuk rute Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dan mulai jalanan rolling-rolling sampai Tabanan,... skitar 86 km. Nyebelin ...

Kami tidak sanggup menyelesaikan rute Gilimanuk-Denpasar berjarak sekitar 123 km. Start tadi itu sudah terlalu siang. Akhirnya terdampar di sebuah pom bensin menjelang Tabanan. Kembali ke habitat, bermalam di hotel kuda laut.

Artikel terkait : 

Keesokannya, lanjut perjalanan ...masih mendaki dan meluncur di jalan raya Tabanan yang rolling-rolling ... kadang mengasyikan juga. Apalagi  jalanan yang dilintasi dipayungi oleh kanopi alami ... lorong yang terbentuk dari rindangnya daun pohon-pohon dikanan kiri jalan.

Sekitar jam 1 menjelang jam 2 siang, mampir ke Pantai Tanah Lot, setelah perjalanan panjang ... kami mulai berburu destinasi.



Sudah tidak sabar rasanya menjadi saksi indahnya saat-saat surya tenggelam dibalik pure yang menjorok di tengah laut. Sayang hari masih siang, jadilah Kami bersabar diri menunggu dipojokan gazebo. Hmmm... lama juga sampai bete tidur-tiduran.

Fyi : tiket masuk Tanah Lot dijual 10rb perorang, sepeda tidak dihitung. Sayang sekali kami tidak boleh masuk bawa sepeda, sudah coba negosiasi sama pecalang, tapi ditolak halus.

Akhirnya matahari mulai meredup, jam 5 lewat wita. Saya berputar-putar mencari spot terbaik untuk mengabadikan sunset dengan foreground pure. Dapat, di tebing-tebing sebelah restoran dan sebelum lapangan golf.

Busyet, ternyata hanya Saya yang orang lokal. Lainnya ada bule, india, dan bermata sipit... antara taiwan atau korea,.. jiah ! Ada juga ding yg sawo matang. .. pelayan restoran... haghaghag..!!! Bodo ah.. jepret-jepret .. cekrek !!

Sayang menjelang klimaknya.. dibatas cakrawala di ufuk barat ada awan menggantung. Kurang sempurna momen sunsetnya.

Abis maghrib, cabut dari Tanah Lot cari makan dan melanjutkan perjalanan. Denpasar...

<<< bersambung >>>

0 komentar:

Post a Comment