Bike to Work

Beberapa waktu belakangan, istilah bike to work ngetrend banget ! Bisa diasumsikan sebagai kesadaran penyelamatan bumi dari global warming, go green ! ada juga yang melakukannya sebagai kesadaran pola hidup sehat, karena sempitnya waktu orang kota sehingga tidak sempat berolah raga.



Sejarahnya mungkin berasal dari sini, jauh sebelum pada demam bike to works. Beberapa dekade yang lalu, nun jauh di pedesaan. Di zaman sebelum motor-motor berkeliaran menggantikan fungsi sepeda sebagai alat transportasi, para petani dan orang-orang desa mengandalkan sepeda sebagai alat transport utama mereka berangkat dan pulang bekerja, tentu saja dengan segala perlengkapan kerja.
[sumber : dolandolanan.deviantart.com]
ga usah dijelasin juga pasti paham perbedaan fungsi sepeda difoto yang atas dan bawh !
Masih bisa jelas Aku mengingat, di era 80-90 an [masa ketika masih anak-anak] ada sebuah warung kelontong atau bisa juga disebut warung sayuran di desaku. Pemilik warung ini, setiap hari belanja sayuran dan kebutuhan sembako di kota kecamatan gowes dengan keronjot [keranjang] diboncengan belakang. Ketika pulang keronjot ini penuh dengan aneka sayuran dan sembako.
keronjot [bantulbiz.com]
Semakin majunya era sekarang dimana orang-orangnya dituntun oleh keadaan bergerak lebih cepat, fungsi sepeda secara keseluruhan mengalami degradasi. "Hanya" untuk olahraga, lifesyle, atau hanya mainan anak. Meskipun bagi sebagian kecil masyarakat masih ada yang mengandalkannya sebagai alat bantu gerak keman-mana.

Ga masalah sih, setidaknya sepeda tidak menjadi barang langka atau malah punah seperti perangkat alat bantu manusia seperti radio tape, walkman, kamera dengan roll film atau kaset yang hampir 100% tergantikan dengan perangkat lain yang lebih canggih atau fungsinya disatukan dalam 1 alat.

Yang penting masih bisa gowes entah itu untuk bike to work, turing, bike2graphy, bike to camp, car free day, ke sawah, ke pasar, buat anak-anak sekolah, atau yang lainnya.

#gowesforhealth

0 komentar:

Post a Comment