TrackR GPS Sepeda, Solusi Mencari Sepeda hilang

Belakangan ini, makin sering dengar kabar mengenai pencurian sepeda. Baik itu dengan kekerasan alias begal. Ataupun pencurian biasa. Seperti ilustrasi divideo dibawah ini, nampak seorang goweser yang NR sendirian di begal 2 orang yang menggunakan motor.


Tidak jelas dimana lokasinya, penampaknya video ini terekam dari sebuah cctv. Tapi bukan itu inti bahasan dalam artikel ini. Yang ingin Saya share dalam artikel ini tentang sebuah alat seperti gps-tracker di mobil yang sudah jamak.

Harga sepeda .. untuk tipe dan merk terkenal... yang lebih mahal dari sepeda motor, menjadi salah satu pemicu maraknya pencurian sepeda. Apalagi menjual sepeda lebih sederhana, tidak perlu surat-surat seperti halnya kendaraan bermotor. Tapi pemilik dan penikmat sepeda sekarang bisa lebih tenang. Sekarang sudah tersedia dipasar Indonesia sebuah alat semacam GPS-Tracker yang bisa dipasang dengan mudah di sepeda. 

Nama alat itu TrackR, sebuah gadget kompak yang teraplikasi dengan teknologi kekinian. Bentuknya mungil sebesar koin receh.


Bagaimana Cara Kerja TrackR ?


Sebenarnya alat ini tidak dikhususkan untuk sepeda, bisa diaplikasikan untuk gantungan kunci, dompet, laptop atau barang-barang pribadi yang mahal atau yang mudah terselip.

Cara menggunakannya mudah sekali, setelah memiliki alat ini ... Anda tinggal memasang ditempat yang tersembunyi disepeda, misalnya dibawah sadel. Lalu unduh aplikasi TrackR yang tersedia untuk IOS atau Android. Jika ingin mencari posisi sepeda tinggal pencet "FIND DEVICE", dengan segera alat ini akan menunjukan lokasi koordinat GPS sepeda yang dipasangi alat ini.

Dimana Beli TrackR ?


Anda bisa mendapatkan alat ini di website resminya .. ini dia linknya .. https://www.thetrackr.com/. atau lebih simple silahkan cari ditoko online yang sekarang sudah menjamur di Indonesia. 

Dengan kisaran harga 400rb-an. Lumayan mahal sih, tapi whortedlah jika dibanding dengan harga sepeda Anda. Oh ya, alat ini ditenagai oleh baterei yang bertahan 10-18 bulan.

Masih bingung ? mau lebih jelas .. tonton dulu yuk video ini .. TrackR diaplikasikan di sepeda.


Semoga bermanfaat ...!

" jika bermanfaat ... tinggalain jejak ya ..share, like, atau comment di Blog ini, Thanks ! " 

1st Anniversary CUTER

Nikmat yang patut disyukuri ... diantara kenikmatan dunia yang lain ... adalah ketika mendapatkan kesempatan menyalurkan hobi. Sebagai tempat menyalurkan kepenatan ... setelah 5 hari berkutat dengan rutinitas ... membuang energi-energi negatif ... karena tekanan pekerjaan. Plus, menambah teman-teman yang seru ... yang sehobi, bersama-sama menghabiskan akhir pekan.


Artis yg di Sponsori oleh COOLANT .. jiah !!!

Cukuplah sebulan sekali, 3 weekend lain puas-puasin utk keluarga dan santai memanjakan tubuh. Uraian diatas adalah ilustrasi yang sangat cocok untuk menggambarkan sepak terjang CUTER. Curug Hunter, sebuah judul atas aktifitas sekelompok begundal ... begitu disebut anggotanya... yang secara aktif 1 bulan 1 kali mengadakan kegiatan GoBar (Gowes Bareng), dengan destinasi curug yang berjarak dibawah 100 km dari Bekasi ... tempat CUTER berasal.


Dan, pada Juli ini ... genap 1 tahun aktifitas para begundal CUTER meramaikan kazanah gowes di bilangan Bekasi. Mungkin CUTER bukan yang pertama dan bukan juga goweser yang baik secara perorangan atau berkelompok gowes ke Curug. Tapi, yang konsisten dan selalu gowes ke curug dan berani deklarasi sebagai Goweser Spesialis Curug, CUTER adalah yang pertama, setidaknya di Bekasi.

Catatan panjang selama 1 tahun, membukukan 45 total curug yang sudah disambangi. Diawal-awal petualangan dengan sepeda, gowes ke Curug bukan hanya sebulan sekali, hampir setiap minggu. Hanya kemudian, karena aktifitas pekerjaan para begundalnya ... diputuskan 1 bulan sekali.


Untuk merayakan 1 tahun eksistensi CUTER, kemarin ... pada tgl 31 Juli 2016 ... CUTER mengadakan funbike bertajuk 1st Anniversary CUTER dengan destinasi Curug Cilalay, Cariu, Bogor. Dihadiri oleh sekitar 100 goweser dari komunitas-komunitas sepeda di Bekasi dan sekitarnya. Ada dari Sobat Gowes Bekasi (SGB), Sogo Bhagasasi, Sabtu Gowes Bareng (Sagobar), perwakilan dari Gober Depok, Picknicker Karawang, PXR (Poligon Xtrada Rider) Bekasi, dan Pagoda (Cikeas).

Sebagai tikum utama ada di Danau Cibeureum Grand Wisata jam 07.00 diberangkatkan setelah rombongan SGB merapat dari basecamp mereka di KR3. Kemudian perjalanan dilanjutkan ke tikum 2 di Pertigaan Indomaret, bergabung Picknicker, Pagoda, Gober...


Di Pom bensin Jonggol, break utk konsumsi .. disana VW konsumsi dan mobil bak untuk evak sudah menunggu. Mobil evak mulai beraksi dari titik ini, peserta yang sudah tidak kuat, kram, evakuasi sepeda di mobil bak orangnya di VW.

Perjalanan dilanjutkan, setelah tanjakan Balaikambang ... break 10 menit regroup dan ambil nafas. Jam 9.45 .. mulai terbersit kekhawatiran waktu sampai di dam Ciomas molor. Mobil evak beraksi lagi, yang sudah habis naik ke mobil.bak untuk mempersingkat waktu. Acara makan siangpun dipercepat, di Cariu peserta dihimbau membungkus makan siangnya


Jam 11.07 sebagian besar peserta sudah finish dilokasi parkir, warung Siska (Sisi kali) jembatan Ciomas. Tapi acara 1st Anniversary CUTER belum kelar. Masih ada hiking 7 km jalan kaki ... menuju Curug Lalay. Nah, disini keseruan berlanjut. Pemandangan sepanjang 7 km terhampar indah. Kombinasi antara gemercik sungai yang jernih, padi yang terhampar, perbukitan yang indah, dan saung-saung ditengah sawah. Mirip di Bali, jiah ...

Curug Lalay terletak di hulu Sungai Ciomas, di perbukitan Sanggabuana. Masuk di Kabupaten Karawang perbatasan dengan Bogoe, kalau Dam Ciomasnya sudah masuk desa Cikatomahi, Cariu, Bogor. Curug kategori bintang 5 untuk wilayah Karawang besar dan bertingkat-tingkat. 

Setelah berjalan kaki 2 jam, rombongan peserta 1st Anniversary CUTER secara bertahap tiba di Curug Lalay, sebagian kecil naik ke Curug Pengantin yang ada diatasnya. Sebenarnya dekat jalan kaki hanya 30 menit, cuma trek yang dilalui terbilang ekstrim. Mendaki bukit terjal dan ada beberapa titik yang mengharuskan merayap secara horisontal berpegangan pada seutas tali.

Puas mandi di Curug Lalay, peserta mulai beranjak turun. Rombongan pertama sampai di parkiran jam 17.00 bersiap pulang. Sebagian gowes sebagian loading, yang dicari dari mobil bak warga sekitar. dan jam 18.00 Curug Lalay kembali normal setelah hiruk-pikuk yang disebabkan oleh acara 1st Anniversary CUTER selama beberapa jam.

Sebelumnya Cuter sudah pernah 3 kali kesini, Saya record perjalanan itu diblog ini, silahkan baca-baca :

http://www.uthitgowes.my.id/2016/01/curug-ke-17-curug-lalay-masih-perawan.html

http://www.uthitgowes.my.id/2015/08/xpdc-100curug-curug-xio-mas.html



" jika bermanfaat ... tinggalain jejak ya ..share, like, atau comment di Blog ini, Thanks ! " 



Curug Semar, Potret Desa Terpencil di Dekat Ibu Kota

Tidak perlu jauh-jauh untuk melihat potret desa tertinggal, teriasolir atau jauh dari peradaban. Tidak perlu ke nunukan, pedalaman riau, atau bahkan suku ptimitif di Papua. Ternyata 50 km dari rumah tergambar jelas, mulai dari infrastruktur jalan yg dengan motor standar bertaruh nyawa untuk melintasinya, listrik disuplay secara swadaya dari kincir-kincir air usang yg berhenti menghasilkan listrik disaat musim kemarau. Dan, cerita anak-anak yang tidak bersekolah karena tidak ada guru apalagi bangku sekolah negeri.

Potret buram yg mencoret peradaban yg katanya sudah memasuki era modernisasi. Bahkan dalam radius yg dekat dengan ibu kota. Miris, Dusun Mulyasari Desa Sukamulya Kecamatan Sukamakmur kabipatrn Bogor, disitu saya memotret dan menjadi saksi betapa pembangunan di Indonesia masih jauh dari kata Merata.


Untuk kenyataan terakhir, bahwa anak-anak disini tidak bersekolah dipangaruhi juga oleh pola pikir orang tua yg masih berpaham "buat apa sekolah". Secara letak, kurang dari 10 km. Meskipun melewati jalan yang tidak ramah, tapi buat orang tua yang gigih dan ingin merubah nasib penerusnya masih masuk akal jika diantar jemput ke SD negeri terdekat, naik motor tidak sampai 1 jam loh.

Tapi apalah, apa urusan Saya, ... hanya merasa prihatin. Hehehehe... cerita diatas bukan isapan jempol ya.. itu kisah nyata yg saya temui saat melintas dusun Mulyasari memburu Curug Cisarua. Sebenarnya Saya sudah kelima kali berada diradius dekat lokasi, dan sudah mendengar tentang keberadaan dusun terpencil ini. Tapi baru kali ini melintasinya. Itupun tujuan utamanya sebenarnya Curug Golek, cuma karena kepagian sampenya makanya sekalian mampir untuk menghabiskan waktu.


Curug Golek, masih dalam satu kawasan dengan Curug Mariuk, Curug Kembar, Curug Hordeng dll. Masuk wilayah Desa Cibadak Sukamakmur. Ini kali ketiga saya dalam 2 minggu terakhir, ya.. tujuannya sama, ke Curug Golek. Cuma yg ini dapet bonus ke Curug Semar yg terletak tidak jauh sari kebun kopi penduduk Mulyasari.

Lewat petunjuk si Om baik hati yang mengantarkan voulenteer-voulenteer dari semacam LSM tapi berisi mahasiswa dan anak SMP-SMA yang mengajarkan AIUEO untuk anak-anak tertinggal di Dusun Mulyasari. Katanya ada Curug yang jaraknya sekitar 1.5 jam jalan kaki dari dusun Mulyasari, nama curug itu Cisarua.


Iya... Cisarua, tapi bukan taman safari ya. Itu nama curug yang secara kebetulan sama dengan nama kebun binatang yang tarifnya mahal itu. Sebetulnya Saya dan kawan-kawan tertarik, hanya karena biasanya selepas bada dhuhur suka ngawur ga menentu, Kami memutuskan untuk menyudahin petualangan edisi kali ini ke Curug Semar yang letaknya 10 menit jalan kaki.

Selepas azan Dhuhur, kami berlima turun ke curug Semar. Menyusuri kebun kopi, ... wah sial. Saya terpelanting .. setelah gagal meraih beberapa kopi yang tidak ikut dipanen, masih menempel dibatangnya .. beberapa biji. Dan, gusrak.. saya terjerembak di semak basah .. untung tidak menimpa pokok kopi. Bisa cidera urusannya.



Curug Semar, biasa aja.. hanya pantas melengkapai portofolio jumlah curug yang pernah dikunjungi. Airnya tidak terlalu jernih, tidak terlalu dingin, juga tidak terlalu tinggi. Masih muda, kayaknya.. karena belum terbentuk kolam atau lebih tepatnya belum dikelola, biasanya sama pengelola akan dibuat kolam yang dibatasi oleh batu-batu disekitar curug yang disusun setengahblingkaran. Mungkin hanya sebagai tempat ngebolang anak-anak dusun.


Tak berlama-lama, Kami meninggalkan Curug Semar dengan cerita miris anak-anak tidak sekolahnya menuju Curug Golek. Dari Kami berlima hanya Saya yang sudah pernah kesana .. ya jadi .. guide dulu lah ceritanya. Sambil belajar cara menjadi guide yang baik. Siapa tahu, suatu saat terpakai .. yang nama ilmu pasti berguna.. kelak..!!!



Sekitar 30 menit berjalan, Kami menapakan kaki diair kali Curug Golek. Curug Golek terdiri dari 2 tingkat... masing-masing membentuk kolam tidak terlalu dalam .. hanya sedada, karena curugnya juga tidak terlalu tinggi jadi asyik buat berenang. Tapi karena Saya tidak bisa berenang, maka Saya hanya bisa melihat om Doods yang berkali-kali salto dan terjun dari atas ... sambil mengabadikan dalam foto dan video.



Kembali kemenu utama, rute. Terletak di Desa Cibadak, Sukamakmur, Bogor ... kurang lebih 47 km dari Bekasi. Seperti biasa tikum di Mabes Alfamidi Cikeas, gowes menyusuri Jl. Nagrak - Indocement - terus lewat jalan utama tembus ke Pasar Citeureup. Di pasar ini belok kiri - Jl. Desa Tajur - Pabuaran. Sampai disini sudah mulai asyik.. nanjak panjang dan ngehe.



Jaraknya sebenarnya ga sampai berpuluh-puluh kilo, tapi karena digowes dengan tanjakan yang sambung menyambung menjadi satu. Perjalanan terasa berat disini, sampai akhirnya nafas terselamatkan ketika mendarat di Warung Sop sebelah kanan jalan, lupa nama warungnya.



Dari sini sudah dekat, nanti akan bertemu pertigaan dengan plang penunjuk arah . .. lurus ke Babakan Madang/leuwi hejo, kiri ke Loji. Kita ambil arah loji, dari sini hanya menyisakan siksaan tanjakan-tanjakan yang secara ajaib mampu membuat putaran roda spin, jalan ditempat.



Ikuti aja jalanan sempit cor...sampai sebelum jembatan ada plang .. Curug Golek.. selamat Anda sudah Sampai. Gowes sampai gerbang tiket, atau ujung cor.. titipin sepeda di rumah penduduk, Kita jalan kaki sekitar 1 jam, cuma menyeberangi 1 bukit. Dibalik nukit itulah curug Golek. Biar tambah seru, ajaklah anak-anak dusun itu, jadikan guide.. tapi ingat jangan tanya tarif, berapa duit? Anak-anak sini sudah tahu duit... cukup kasih 10 atau 20 ribu atau jajanin diwarung terdekat. Sekalian berbagi, senang bisa melihat mereka jajan dan senyum ceria.

Trilogi B2B - Jilid 2 : Sunrise di Sanur

Semalam sampai di rumah singgah sepeda, tepatnya di rumah Om Syahrul Anwar. Di Denpasar Kota, Jl. Gatot Subroto atau biasa disingkat dengan akronim gatsu. Ini hebatnya efek sepeda, Saya bahkan belum pernah ketemu dengan om Anwar. Tapi dengan keramahan khas Bali, Saya menginap dirumahnya bahkan sampai seminggu. Semua gara-gara sepeda.

Pagi-pagi, Saya yang masih sama sekali buta tentang Denpasar diantar oleh om Anwar ke Pantai Sanur. Katanya sunrisenya bagus disini. Meskipun sebentar, om Anwar musti kerja.


Setelah momen sunrise yang hanya beberapa menit lewat, saatnya sarapan menu khas Sanur. Sop ikan yang terletak ditepi pantai. Ditemani segelas teh manis hangat sambil menikmati pemandangan disepanjang garis pantai, diiringi debur suara ombak. Sekelompok nelayan dan pelanggannya nampak sibuk menyeberangkan motor-motor ke Nusa Penida.

GWK


Pokoknya hari ini dan sisa beberapa hari kedepan akan dipakai untuk mengunjungi sebanyak mungkin spot wisata. Inilah salah satu kelebihan Bali. Geser dikit tempat wisata, banyak banget sampai bingung memilih. Disepanjang garis pantai berjejer pantai-pantai yang sangat terkenal, Nusa Dua, pantai Pandawa, Uluwatu, Kute ... itu jaraknya dalam radius yang relatif dekat.


Nusa Dua, pantai yang sudah dikavling-kavling oleh resort dan hotel. Kami sempat kebingungan mencari dimana pantai yang gratisannya. Akhirnya memutuskan lewatin aja. Next destinasi, GWK aka Garuda Wisnu Kencana.

Tapi, rupanya jalan menuju selatan bali merupakan perbukitan so ... kami harus nanjak-nanjak untuk rute ini, selepas dari Nusa Dua. Relatif panas Selatan Bali, apalagi kami gowes melintas daerah ini pas siang bolong, puanasse poll..!!!

Dalam hitungan belasan kilometer, sampailah dipertigaan terakhir. Kiri Uluwatu .. kanan GWK .. terus Pantai Kute.GWK ga sampai 1 km dari pertigaan itu, tapi turunan tajam. Tergoda oleh seluncuran diturunan Kami memutuskan memilih GWK.

GWK merupakan situs buatan manusia yang dijadikan tempat suci. Ikonnya adalah patung-patung Dewa Wisnu dan patung Garuda dalam ukuran super jumbo. Ada juga Patung Dewa Wisnu sedang naik Garuda, hanya saja masih dalam kontruksi. Dan nampak terbengkalai.

Harga tiketnya lumayan mencekik, 70 rb untuk 1 orang.. hiks ! Ya udahlah tanggung sampai dimari, masa gagal masuk.

Kute


Sekitar jam 3 sore, lanjut ... dari GWK sekitar 2 jam gowes sudah plus makan disebuah warung padang dengan hashtag harga pelajar, hehehehe ... Kute dengan pantai Legiannya kayaknya pusatnya bule-bule.

Disepanjang jalan-jalan kecil yang lumayan ruwet, berserakan bule-bule ... ada yang nongkrong di kafe, jalan kaki, naik motor,.. tapi hanya kami yang bersepeda. Eh emang situ bule... jiah !!!


Diawal-awal tahun 2000-an, kawasan pantai Kute pernah terjadi tragedi kemanusiaan. Bom diledakan atas nama isu agama dan ras tertentu. Korbannya mencapai ratusan jiwa melayang yang didominasi bule Australia. Dan di Bekas Padis Club sekarang berdiri monumen Bom Bali.

Agak susah mencari pantainya, disamping jalannya kecil dan banyak dan plang-plang penunjuk kearah pantai juga terselip diantara plang-plang iklan dan nama toko. Kami sempat beberapa kali hanya berputar-putar aebelun akhirnya sampai di pantai.

Nampaknya pemandangan sekelompok bule dikursi-kursi tenda dipinggir pantai sambil menenggak bir langsung dari botol, sudah lumrah di Legian. Berkrat-krat botol bir tersusun didekatnya.

Tentu bukan pemandangan lumrah dikota-kota lain. Kalo ditempat Saya paling banter krat teh botol yang tersusun di warung kelontong.


Sebenarnya, pantai Legian hanya pantai berpasir hitam seperti ditempat lain. Tapi, kalo sudah jadi ikon, apalagi dengan fasilitas yang lengkap menjadikan tempat ini menjadi tempat favorit kongkow para bule.

Denger-denger sih, .. isu reklamasi Tanjung Benoa akan memindahkan Kute dan tempat kongkow bulenya ke pantai reklamasi itu. Pertimbangannya, nampak tidak etis buat anak sekolah yang studi tour ke Kute melihat kelakuan bule-bule itu. Tapi,... kepentingan ekonomi membuat para pemuda yang sudah terlanjur kenyang menikmati roda uang yang berputar kencang, menolaknya... sekencang putaran roda uang itu... entahlah.. !!!

Saya sih lebih asyik ... nongkrong disalah satu sudut balai yang agak jauh dari keramaian menanti sunset sambil ngopi dan dengerin suara debur ombak . Santai kayak anak pantai ...

<<< Bersambung >>>


" jika bermanfaat ... tinggalain jejak ya ..share, like, atau comment di Blog ini, Thanks ! "






Trilogi B2B - Jilid 2 : Sunset Tanah Lot

Strateginya cari penginapan kelas murmer untuk sekedar memanjakan tubuh, secara sudah lebih dari seminggu ga nempel kasur. Dan, cuci-cuci baju dan peralatan yang mulai mengeluarkan aroma tak sedap. Serta cuci sepeda, terutama rantai.

Jadilah ... penginapan 85 ribu semalam di Tanjung Wangi kelas kipas angin. Beberapa km dari pelabuhan Ketapang. Saya lepas webing hammock buat jemuran ... di kamar.. jiah. Mungkin kalo ob hotel lihat akan geleng-geleng kepala.

Sambil nunggu keringnya jemuran Saya melongok ke tepi pantai, rupanya hotel ini persis berada di samping gudang pabrik semen. Bisa diidentifikasj begitu dari sebuah pelabuhan kecil tempat bersandar kapal tangker pengangkut semen curah.

Jam 1 siang, setelah merapikan kembali kamar hotel dan repacking pannier Kami cabut, nyeberang kita.


Untuk menyeberang dengan feri dari Ketapang ke Gilimanuk, Sepeda Gayung (??? Belinya dimana ya???) masuk golongan  1 harga tiketnya 7.000 ... murah banget yah !!! Sedangkan Sepeda motor 22.000.

Memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk sampai di Gilimanuk. Lanjut gowes, yah.. Kami sudah menapakan ban sepeda di pulau dewata. Selepas pelabuhan Gilimanuk, Kami disambut persimpangan jalan. Kiri ke Singaraja, kanan Denpasar via Tabanan.

Langsung masuk rute Taman Nasional Bali Barat (TNBB) dan mulai jalanan rolling-rolling sampai Tabanan,... skitar 86 km. Nyebelin ...

Kami tidak sanggup menyelesaikan rute Gilimanuk-Denpasar berjarak sekitar 123 km. Start tadi itu sudah terlalu siang. Akhirnya terdampar di sebuah pom bensin menjelang Tabanan. Kembali ke habitat, bermalam di hotel kuda laut.

Artikel terkait : 

Keesokannya, lanjut perjalanan ...masih mendaki dan meluncur di jalan raya Tabanan yang rolling-rolling ... kadang mengasyikan juga. Apalagi  jalanan yang dilintasi dipayungi oleh kanopi alami ... lorong yang terbentuk dari rindangnya daun pohon-pohon dikanan kiri jalan.

Sekitar jam 1 menjelang jam 2 siang, mampir ke Pantai Tanah Lot, setelah perjalanan panjang ... kami mulai berburu destinasi.



Sudah tidak sabar rasanya menjadi saksi indahnya saat-saat surya tenggelam dibalik pure yang menjorok di tengah laut. Sayang hari masih siang, jadilah Kami bersabar diri menunggu dipojokan gazebo. Hmmm... lama juga sampai bete tidur-tiduran.

Fyi : tiket masuk Tanah Lot dijual 10rb perorang, sepeda tidak dihitung. Sayang sekali kami tidak boleh masuk bawa sepeda, sudah coba negosiasi sama pecalang, tapi ditolak halus.

Akhirnya matahari mulai meredup, jam 5 lewat wita. Saya berputar-putar mencari spot terbaik untuk mengabadikan sunset dengan foreground pure. Dapat, di tebing-tebing sebelah restoran dan sebelum lapangan golf.

Busyet, ternyata hanya Saya yang orang lokal. Lainnya ada bule, india, dan bermata sipit... antara taiwan atau korea,.. jiah ! Ada juga ding yg sawo matang. .. pelayan restoran... haghaghag..!!! Bodo ah.. jepret-jepret .. cekrek !!

Sayang menjelang klimaknya.. dibatas cakrawala di ufuk barat ada awan menggantung. Kurang sempurna momen sunsetnya.

Abis maghrib, cabut dari Tanah Lot cari makan dan melanjutkan perjalanan. Denpasar...

<<< bersambung >>>

Federal StreetCat 550

Sepeda mahal belum tentu bagus, juga sepeda dengan spesifikasi high-end belum tentu cocok dengan badan. Sepeda bagus itu sepeda yang geometrinya pas. Dan, ternyata pencarian sepeda dengan karakteristik geometri yang pas dianatomi tubuh gowesernya tidak simple.

Diatas kertas, ada ukuran-ukuran yang bisa dijadikan panduan memilih sepeda. Tapi tetap perlu uji lapangan langsung sebagai finalisasinya.


Ini yang Saya alami, semacam pengalaman pribadi. Sudah terhitung 4 kali ganti sepeda, baru yang kelima dapat yang pas. Pas dikantong, pas secara geometri, dan pas dihati (modelnya). Sebenarnya disepeda yang ketiga sudah pas secara geometri tapi.. ga pas dihati. Yang Saya maksud adalah Federal Wildcat yang notabene model sepeda lady. Secara penampilan kurang grenk ... Kedepan ini mau saya jadikan MTB untuk medan ngaprak.

Sepeda kelima yang itu ... Federal Streetcat 550, dengan ukuran CT 19.5" dan Cc 21.5 ".


Dengan sedikit teori yang Saya kuasai mengenai geometri sepeda, sambil nanya Om-om master sepeda, dan bimbingan dari mekanik langganan selesailah proses rebuild sepeda ini.

Kemarin, selama 16 hari Saya test drive untuk touring trilogi b2b - jilid2 - Bekasi to Bali dengan jarak tempuh lebih dari 1500km ... itu sudah muter-muter di Bali.

Dan ... hasilnya, pas .. klop, cocok dan enak banget digowesnya. Dalam 16 hari ... Saya lebih dari 12 jam diatas sadel setiap harinya. Tidak membuat badan sakit, cuma pantan aja (maaf) yang terasa berduri.

Jadi beraemangat untuk menyelesaikan misi trilogi b2b yang tinggal menyisakan jilid 3nya.



Trilogi B2B - Jilid 2 : Alas Baluran

Setelah berpisah dengan om Rizky di Alun-alun Situbondo, Kami melanjutkan perjalanan ... masih dihari yang sama. Target hari ini minimal sampai di Pelabuhan Ketapang.

Rutenya musti melintasi alas (hutan, ... Redaksi) Taman Nasional Baluran. Yang masih dibumbui dengan cerita mistis, tentang setumpuk batu-batu yang akan kembali diposisi semula meskipun sudah berulangkali dipindahkan. Dilokasi inh juga kerap menjadi titik mogok truk-truk besar.

Alas Baluran merupakan sebuah kawasan hutan yang merupakan taman nasional, terkenal dengan satwa endemik ... banteng jawa, yang dibelah jalan raya yang merupakan jalur pantura yang berakhir di Ketapang, Banyuwangi.

Sekitar jam 2 siang, Saya sudah bersiap melintas alas Baluran. 2 botol besar air kemasan, sepotong roti dan sekotak madu. Jarak sekitar 30 km dengan estimasi waktu tempuh 2 sampai 3 jam. Rutenya rolling-rolling ga ada warung, hanya ada pos polisi yang menjadi titik break para pengendara.

Yo wis, bismillah ...ga ada tanjakan yg ga bisa digowes, sejauh apapun pasti pasti dimulai dari gowesan pertama. Istiqomah aja segowes demi segowes. Rute Alas Baluran disambut dengan tanjakan .. lumayan curam.

Selanjutnya mulai melintasi satu persatu pohon jati .. dominasinya.. diawal-awal nanjak terus, tak begitu tinggi tapi lumayan panjang. Jalan aspalnya bergelombang dipinggir-pinggir pertanda sering dilindas kendaraan dengan tonase besar.

Sesekali Kami mesti turun ke bahu jalan yang terdiri dari bebatuan kecil, ketika terpepet truk yang berpapasan, huh ... nasib ... size does matter.. jiah.

Setelah setengah rute mulai terdominasi oleh turunan-turunan, bonuslah setelah tanjakan-tanjakan diawal-awal rute. Beeak sejenak disitus yang menarik untuk foto-foto, waduk Bajul Mati yang sedang tahap pembangunan.

 
Setelah cekrek sana - cekrek sini, puas-puasin sambil ambil nafas, basahi tenggorokan. Kami lanjut gowes menyelesaikan rute Alas Baluran, dominasi turunan dan jalan yang lebih halus. Eh.. rupanya dari Waduk tadi ending Alas Baluran sudah tidak jauh.

Endingnya berupa gerbang menuju masuk Taman Nasional Alas Baluran. Karena penasaran dan baru jam 4 lewat, oh ya.. berarti Kami menyelesaikan etape eute Alas Baluran dalam 2 jam lewat dikit. Syukur .. timingnya pasa banget, melintas saat jam-jam tidak terlalu panas dan tidak juga kemaleman dalam hutan.

Tiket masuk TN Baluran lumayan mahal, 17 ribu, ... didapat dapat melihat savana, yang berakhir di tepi pantai. Membelah savana dengan jarak sekitaran 12 km. Dengan jalan aspal rusak, tapi itu kata si om Jagawana. Karena Kami tidak sanggup melintas jalan makadam, hanya sekitar 2km Kami minggir ... seduh kopi dan ... balik kanan menjelang maghrib. Ohya. ... didalam tersedia.kuga penginapan dengan harga paket 100 rb permalam.

Gowes hari ini, berakhir di sebuah penginapan di Tanjung Wangi, sekitar 4 km sebelum pelabuhan penyeberangan Ketapang. Kami memutuskan untuk menyeberang besok hari. Perlu waktu untuk bersih-bersih, mandi besar, cuci-cuci. Meskipun tiap hari jersey dicuci tapi karena prosesnya kurang sempurna, jadi bau tengik, dan rembesan basahan dari tas tempat perlengkapan mandi, nampaknya perlu dikeringkan sempurna, agar besok masuk Bali dalam kondisi wangi, cerah, ceria ... haghaghag !!!

>>> bersambung <<<

" jika bermanfaat ... tinggalain jejak ya ..share, like, atau comment di Blog ini, Thanks ! "